Jumat, 11 September 2015

Tips Memilih Properti Untuk BerInvestasi

Melakukan bisnis di bidang investasi memang tengah digemari sekarang ini. Di dunia investasi sendiri ada beberapa macam jenisnya, ada investasi jenis emas, saham, deposito dan sebagainya. Ada pula jenis investasi yang tak kalah menariknya yaitu di bidang properti. Jenis investasi properti pun masih dibagi lagi dalam beberapa macam yaitu ada rumah, apartemen maupun tanah. Namun biasanya kebanyakan orang lebih memilih jenis investasi bidang properti dikarenakan mereka tergiur akan keuntungan yang dapat mereka peroleh bahkan terbilang cukup tinggi. Contohnya saja mereka bisa menyewakan rumah untuk memperoleh pendapatan tambahan, bisa juga untuk digunakan sebagai agunan di bank, dan masih banyak lagi cara maupun strategi yang bisa dilakukan bagi pemiliknya. Meskipun demikian disamping banyaknya keuntungan yang bisa didapatkan dalam investasi jenis ini namun perlu anda ingat juga bahwa suatu properti juga bisa mendapati kerugian, misalnya seperti terdapat biaya perawatan yang harus dilakukan, sulitnya likuid yang disebabkan karena waktu, terjadinya penyusutan nilai suatu bangunan dan lain lain.
Untuk anda khususnya seorang investor yang hendak berinvestasi di bidang properti, Kali ini akan kami informasikan mengenai beberapa tips yang bisa anda perhatikan ketika memilih suatu bidang properti yang tepat dimana sekiranya bisa menghasilkan keuntungan bagi anda untuk kedepannya. Pada artikel ini memang kami fokuskan pada nilai suatu pengembalian sebuah investasi, langsung saja untuk lebih jelasnya kelebihan dan kekurangannya masing-masing baik itu tanah, apartemen maupun rumah.
Jenis Investasi Tanah
Kelebihan:
  • Nilai jual kembali-nya akan mengalami kenaikan cukup besar, karena kita tahu bahwa harga tanah dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan.
  • Hanya membutuhkan biaya untuk perawatan yang sangat kecil
  • Tanah juga tidak membutuhkan adanya asuransi mengingat investasi ini relatif aman.
Kekurangan:
  • Tidak bisa untuk disewakan, Jadi seorang investor tanah tidak bisa memperoleh tambahan pendapatan dari investasi ini.
  • Susah untuk digunakan sebagai agunan bank
  • Apabila luas lahan tanah tersebut luas, maka juga akan sulit untuk menjualnya kembali karena mengingat jarang pula ada pembeli yang mempunyai uang banyak.
Jenis Investasi Apartemen
Kelebihan :
  • Harga jual dari suatu apartemen akan jauh lebih tinggi dari sebuah rumah, hal ini menjadikan banyak orang lebih memilih untuk membeli sebuah apartemen dengan letak yang strategis ketimbang rumah yang strategis.
  • Apartemen bisa kita menambah pendapatan kita dengan cara menyewakannya kembali.
Kekurangan :
  • Untuk biaya perawatan yang harus dikeluarkan relatif lebih mahal
  • Nilai jual kembali-nya relatif lebih kecil daripada jenis investasi rumah ataupun tanah, hal ini disebabkan menyusutnya nilai dari suatu apartemen tiap tahunnya.
  • Apartemen tidak dapat kita renovasi. Biasanya tak jarang pula terjadi permasalahan dengan pemilik apartemen lain, misalnya seperti terjadinya pipa bocor yang pada akhirnya apartemen kita juga perlu diperbaiki.
Jenis Investasi Rumah
Kelebihan:

  • Meskipun nilai jual kembali-nya sedang, namun sangat menjanjikan. Untuk kenaikan harga rumah sendiri memang kita ketahui lebih kecil jika dibanding dengan harga kenaikan tanah.
  • Sebuah rumah akan lebih mudah dijual dibandingkan dengan tanah. Jadi tentu orang akan memilih untuk membeli rumah ketimbang sebuah tanah.
  • Bisa kita jadikan agunan di bank.
  • Rumah dapat kita manfaatkan untuk menambah penghasilan bulanan dengan cara menyewakannya.
Kekurangan:
  • Nilai jual dari sebuah rumah juga mengalami penyusutan tiap tahun.
  • Membutuhkan adanya dana untuk membayar pajak bangunan, sehingga relatif lebih mahal ketimbang suatu tanah.
  • Perlu juga suatu rumah untuk diasuransikan demi berjaga-jaga, ini akan menambah pengeluaran anda.
Demikian tadi beberapa tips untuk menentukan jenis properti yang tepat dengan memperhatikan baik itu kelebihan maupun kekurangannya sehingga para calon investor bisa mengetahui dengan jelas aset investasinya.

Tips Membeli Rumah Bagi Yang Bergaji Kecil

Memiliki rumah, sudah pasti menjadi keinginan setiap orang. Namun, keinginan ini kadang terbentur dengan pendapatan atau gaji yang diperoleh setiap bulannya.
Kondisi tersebut membuat orang terpaksa mengurungkan niatnya untuk membeli rumah dan lebih memilih menyewa kos-kosan.
Lalu bagaimana solusi membeli rumah dengan gaji yang terbilang tidak terlalu besar? Sekarang mengambil contoh, orang itu berpenghasilan Rp 5 juta atau di bawah nilai tersebut?.
Perencana Keuangan MRE Financial dan Business Advisory Andy Nugroho mengatakan, agar bisa tepat dalam menyisihkan dana sebagai uang muka membeli rumah, maka perlu melihat berapa besar uang muka yang dibutuhkan untuk membeli rumah yang diinginkan.
Setelah itu, calon pembeli rumah harus memperhitungkan jangka waktu ideal untuk menabung dana uang muka yang diperlukan.
"Semakin besar dana yang diperlukan dan semakin sempit waktu yang dimiliki, tentunya akan membuat kita harus menabung semakin besar," ujar Andy.
Andy mencontohkan, untuk harga rumah senilai Rp 300 juta maka uang mukanya adalah 20 persen atau sekitar Rp 60 juta. Dengan begitu, jika menabungnya hanya dalam waktu satu tahun maka Rp 60 juta dibagi 12 bulan dan hasilnya Rp 5 juta.

Menabung Rp 5 juta setiap bulan, rasanya tidak mungkin jika gaji calon pembeli rumah tersebut sebesar Rp 5 juta. ?Untuk mengatasi persoalan ini, maka perlu menambah jangka waktunya untuk menabung.
"Misalnya dua atau tiga tahun, sehingga angkanya semakin kecil," ucap Andy.
Setelah uang muka sudah terkumpul?, maka yang harus dipikirkan yaitu cicilan rumah atau Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Menurut Andy, idealnya total cicilan utang seseorang itu adalah 30 persen dari pemasukan yang didapatnya setiap bulan.
"Karena disebut total, maka sudah termasuk didalamnya semisal cicilan kendaraan bermotor, pembelian barang-barang elektronik, cicilan kartu kredit, dan lain sebagainya. Jadi semisal hendak membeli rumah dengan cara mencicil, maka cicilannya sudah masuk ke 30 persen itu juga," tuturnya.
Namun, jika cicilan lain-lainnya sudah cukup besar dan hampir menyentuh angka 30 persen. Andy menyarankan, agar calon pembeli rumah perlu melunasi dahulu cicilan lainnya itu baru kemudian membuat cicilan baru lagi.
Hal ini perlu dijalankan, agar uang yang diperoleh setiap bulannya tidak habis hanya untuk membayar cicilan? utang saja dan bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari lainnya dengan baik.
"Pembayaran cicilan yang lebih dari 30 persen dari pemasukannya setiap bulan, akan membawa konsekuensi kita harus merelakan ada kebutuhan lainnya yang mungkin tidak dapat terpenuhi. Tapi jika kebutuhan lainnya sudah merasa terpenuhi dengan baik sehingga tidak masalah apabila mencicil lebih besar lagi, maka hal tersebut tidak menjadi masalah," ujar Andy. 

sumber : http://www.ciputraentrepreneurship.com